Ust. H. Miftah Fauzi Rakhmat
Bersama idris, kita merenungi arti kenikmatan; betapa setiap kebahagian yang kita rasakan, pasti terbaring disamping kita, orang-orang yang kekurangan. Dari idris pula kita belajar makna kematian; bahwa kebahagian yang sesungguhnya adalah perjumpaan dengan tuhan; bahwa kematian hanyalah jembatan, menuju alam keabadian. Namun mengapa banyak manusia yang lari daripadanya? Padahal Al-Quran mengatakan; “dimana saja kamu berada, maut tetap akan mendapatkanmu. Meskipun kamu bersembunyi di benteng yang paling tinggi dan kokoh sekali pun.” (QS. Al-Nisa;78)
Idris adalah cerminan seorang manusia yang merindukan tuhan dengan kerinduan yang suci. Izrail, sang malaikat maut, terkagum-kagum melihat idris di langit. Selain terkenal karena indah dalam ibadah, idris juga piawai dalam berbagai kepandaian. Idris dikaruniai tuhan kemampuan untuk menguasai beberapa keterampilan. Sejak kecil, ia telah pandai membaca shahifah yang diwariskan dari nabi syits, putra adam setelah habil. Idris juga memperoleh tiga puluh lembaran suci baru yang diturunkan malaikat jibril untuk membinmbing keturunan adam menghadapi tantangan dan perubahan zaman. Idris juga menguasai ilmu hitung, ilmu perbintangan, menuggang kuda, dan menjahit pakaian.
Pernah, suatu saat, ketika ia sedang menjahit, iblis datang mengoda. Iblis menyamar menjadi seorang laki-laki yang mendatangi idris seraya membawa sebutir telor. Kepada idris, iblis berkata; “aku ingin beriman kepada tuhanmu, tetapi aku meragukan kekuasaanya.” Idris menjawab; “apa yang membuat mu ragu kepada tuhan?” iblis berkata; “aku dengar tuhanmu maha kuasa. Mampukah dia memasukan bumi yang kita huni ini ke dalam sebutir telur yang aku bawa?” dengan tenang idris menjawab; “tuhan ku bukan saja mampu untuk memasukan bumi ke dalam sebutir telur, dia juga mampu untuk memasukanya ke dalam rongga sekecil lubang jarum yang aku pegang ini.” Iblis keheranan, “bagaimana mungkin?” tanyanya. Idris tak menjawab. Ia pegang jarum di tanganya, dan dengan hentakan yang luarbiasa, ia tusuk mata iblis sehingga iblis menjerit dan serta merta menghilang. Idris tahu, bahwa ia sedang diuji oleh iblis yang menyamar menjadi manusia.
Sekian ribu tahun sesudah idris, pertanyaan yang sama datang berulang. Peristiwa ini terjadi pada imam ja’far shodiq, seorang cucu Muhammad Rasulullah saw. Alkisah, seorang murid imam ja’far shodiq bernama Hisyam bin Hakam, berjumpa dengan seorang yahudi, yang bertanya kepadanya tentang dua hal; pertama , pertanyaan serupa yang diajukan iblis kepada idris; mampukah tuhan memasukan planet bumi ke dalam sebutir telur, tanpa telur itu membesar atau planet bumi ini mengerut? Kedua, seperti apakah kenikmatan yang abadi di surge kelak? Apabila kita hanya memakan buah-buahan dan menikmati hidangan, mungkinkah kita dihinggapi rasa bosan? Demikian dua pertanyaan yahudi kepada hisyam bin hakam. Melihat wajah hisyam yang mengernyitkan tanda Tanya, yahudi berkata; “aku beri engkau waktu satu tahun untuk memecahkan persoalanmu.”
Berangkatlah hisyam menemui gurunya, imam ja’far shodiq ra. Kepada imam, hisyam mengajukan dua pertanyaan yang membinggungkanya. Imam ja’far shodiq berkata; “wahai hisyam, lihatlah sekelilingmu. Katakana apa yang engkau saksikan?” hisyam menjawab: aku melihat unta, pepohonan, bebukitan, padang pasir, dan tanaman.” Imam ja’far shodiq berkata; “dialah Allah yang memasukan segala apa yang kau lihat, bahkan alam semesta semuanya, dalam sebutir mata mu--- yang jauh lebih kecil dari sebuah telur. Dia telah memasukan langit, aku, unta, pepohonan, bebukitan, padang pasir, dan tanaman dalam bingkai matamu. Tentu Allah yang maha kuasa mampu untuk memasukan bumi ini ke dalam telur, tanpa telur ini membesar atau bumi mengecil. Lalu untuk jawaban dari pertanyaan keduamu, kenikmatan apakah yang abadi di surga kelak, adalah pertemuan dengan penciptamu, bergabunglah engkau bersama kekasih sejatimu, kembalinya engkau ke tempat asalmu.
Tak menunggu waktu setahun, ketika esok harinya hisyam bertemu dengan si yahudi. Ia sampaikan jawaban yang diajarkan gurunya. Yahudi itu pun memeluk agama islam. Inilah gambaran kekuasaan Allah. Dia mampu melakukan apa saja. Inilah yang dimaksud oleh idris ketika ia menusuk mata iblis yang bertanya kepadanya tentang kemampuan tuhan. Idris menjawab bahwa tuhan mampu memasukan bumi ini ke dalam lubang sekecil lubang jarum, dan ketika jarum itu ditusukan ke dalam mata iblis, dunia yang biasa iblis lihat dengan mata manusianya, serta merta menghilang dari pandanganya.
Suatu saat, ketika malaikat maut izrail masih menjadi tamu di rumah idris, idris berkata kepadanya, “sampaikan pada tuhanku, aku ingin sekali lagi engkau cabut nyawaku dan beri aku kesempatan untuk melihat surga dan neraka.” Dari atas langit terdengar suara mengabulkan permohonan idris. Maka izrail sekali lagi mencabut roh idris dari jasadnya, membawanya terbang ke angkasa, mendekatkanya untuk melihat suraga dan neraka.
Ia melihat neraka yang berkobar, tempat kembali manusia yang durhaka. Kepada izrail, idris berkata: “mungkinkah aku memohon satu hal lagi?” ketika idris menanyakan maksud permohonan idris, ia menjawab; “mintalah malaikat ridwan, sang penjaga surge, untuk membukakan gerbang surge sehingga aku bisa melihat apa yang ada di dalamnya.”
Begitulah, pintu surga kemudian terbuka dan idris masuk ke dalamnya. Ia menyaksikan keindahan tempat kembali manusia. Ketika izrail mengajak idris untuk kembali turun ke bumi, idris menolak. Ia menggengamkan erat pohon di surge dan berkata; “aku tak ingin meninggalkan tempat ini. Bukankah tuhan telah berfirman; setiap diri akan merasakan kematian (QS. Ali-Imran;185). Aku sudah merasakanya. Ruhku sudah tercabut dari jasadku. Tuhan juga berifman; setiap jiwa akan datang kembali ke tempat asalnya. Aku sudah merasakanya. Tuhan juga berfirman; Allah memasukan mereka ke dalam surga… dan mereka kekal di dalamnya.(QS. Al-Mujadilah;22) dan aku sudah berada di surga.
Dari langit terdengar suara; “biarkan hambaku idris disana. Atas izinku ia akan menetap di surge selama-lamanya.” Maka idris menetap di surge hingga perhitungan, ketika seluruh manusia di bangkitkan untuk dimintai pertanggung jawabanya. Menurut riwayat, kadang-kadang idris terlihat berada di surge, kadang-kadang di langit yang ke empat, keenam, dan sebagainya. Allah lah yang mahatahu.
Beberapa ribu tahun setelah idris, ketika Muhammad bermi’raj ke langit, beliau berjumpa dengan idris di langit keenam. Disana idris mengucapkan salam dan salawat kepada nabi akhir zaman.
Demikianlah kisah idris. Ia kembali kepada tuhan dengan penuh kesadaran. Bermunajat dan menyembah tuhan hingga datang kematian. Dengan kerendahan hati, ia meminta kematian. Dengan keteguhan hati, ia meminta keabadian di surge. Beribu tahun setelah idris, seorang keturunan Rasulullah mengajarkan sebuah doa kepada pengikutnya, yang dikenal dengan “doa idris”. Doa itu berisi empat puluh nama Allah.
Alkisah, ketika tuhan mengutus idris ke tengah kaumnya, tuhan memerintahkan mereka untuk melazimkan empat puluh nama itu dalam keseharian mereka, supaya mereka senantiasa berada dalam lindungan Allah swt.
Marilah kita akhiri hikmah kisah idris dengan membaca doa yang diajarkan tuhan kepadanya. Pada runtunan hikmah berikutnya, kita akan mengabungkan diri dalam kehidupan Nuh as, sang pembuat bahtera keselamatan. Inilah sebagai dari Doa Idris”
Segala puji bagimu, wahai yang tiada tuhan selainmu
Engkau lah Allah, yang terpuji dalam segala perbuatanmu
Engkau kasih dan engkau sayangi segala sesuatu
Wahai yang tetap abadi setelah seluruh makhluk binasa
Wahai yang kebesaranya tak mampu dicerna makhluknya
Wahai yang suci dan hanya darimu lah kesucian
Wahai penawar segala kesakitan
Wahai yang menolong orang yang memohon pertolongan
Wahai tempat bernaung orang yang membutuhkan naungan
Sampaikan salawat pada Muhammad nabi akhir zaman
Sampaikan salawat pada ketutunanya yang disucikan
Lakukanlah padaku apaayang engkau kehendaki atasku
Inilah taubatku, inilah permohonanku, dan aku tidak memohon selain kepada mu…
(selesai)
Ditranskrip dari program the holymen stories yang disiarkan radio ramako magic 106.15 FM Jakarta