Seperti anda ketahui, pada hari minggu, 21 september 1997 beberapa waktu yang lalu, di aula masjid Istiqlal ada seminar. Seminarnya sangat terbatas. Di harian Terbit saya membaca, ketika panitinya ditanya mengapa cendekiawan lain seperti jalaluddin Rakhmat tidak diundang supaya seminar bersifat adil dan berimbang, mereka menjawab: "tidak, seminar ini terbata saja." Kata Hadimulyo, kalau terbata, jangan adakan seminar, adakan saja rapat akbar. Panitia itu berkata, "kami tidak ingin mengundang perdebatan. Kami hanya ingin member masukan kepada aparat keamanan."
Lalu seperti anda ketahui, keluarlah sebuah resolusi dari seminar di aula Masjid Istiqlal itu- belakangan, karena seminar itu, saya menyebut istiqlal menjadi istighlal, yang artinya "eksploitasi, penindasan, atau pemanafaatan buat kepentingan sendiri." Resolusi itu memutuskan, di antaranya, agar yayasan-yayasan syiah dilarang (yayasan muthahhari ditulis sebagai yang pertama). Ada seorang tokoh, yang tidak akan saya seut nama nya, berkata: "kami di bandung sudah bertekad untuk menghancurkan yayasan Muthahhari."
Sebetulnya, yang diusulkan untuk ditutup bukan yayasan Muthahhari saja, tatapi juga mulut jalaluddin Rakhmat. Akhirnya saya teringat doa ini. Kalau mereka mengajukan saya dan yayasan Muthahhari ke jaksa Agung saya ajukan mereka kepada Allah swt. Kepada-nya saja saya ajukan resolusi ini, "siapa saja yang bermaksud jelek kepadaku, palingkanlah kejelekanya dariku: gagalkanlah segala tipu dayanya: tolaklah segala kejahatanya: hancurkanlah segala tipu danyanyadi tempat asalnya: dan jadikanlah antara aku dan dia penghalang sampai engkau butakan matanya untuk melihatku; engkau tulikan pendengaranya dari sebutanku; engkau tutup hatinya sehingga tidak ingat lai kepadaku; engkau bungkamkan lidahnya dari menyerangku; engkau tahan kepalanya; engkau rendahkan kegaahanya; engkau patahkan kesombonganya; engkau tundukan tengkuknya; engkau hancurkan ketingggian hatinya ; dan engkau lindungi aku dari semua bhanya, kejelekanya, umat dan caci makinya, kedengkian dan permusuhanya, tipu daya dan rekayasaya, serta anak buah dan kaki tanganya. Sesungguhnya engkau mahagagah dan maha kuasa."
Doa ini sangat luar biasa dan dahsyat. Saya yakin, insya Allah mereka tidak akan berhasil menutup yayasan Muthahhari. Tapi tak urung, orang-orang rebut juga kepada saya, karena saya kelihatan tenang-tenang saja. Seharusnya saya tampil dan mengumumkan bahwa itu keliru. Saya bilang, saya tidak punya waktu, dan saya sudah menyerahkan resolusi saya kepada Allah swt. "wa kafa billahi wakilan"; "hasbiyAllah ni´ma al-mawla wa ni´ma al-nashir; "katabAllah la aghlibanna ana wa rusuli innAllah qawiyyun aziz. Allah telah mewajibkan bahwa aku dan rasul-rasul ku akan mengalahkan kalian. Sesungguhnya Allah hamaperkasa dan mahagagah. (QS. Al-Mujadilah, 58;21)
Mengapa Memohon Pertolongan kepada Allah?
Wa iyyaka nasta´in artinya "kepada mu kami memohon pertolongan-sebelumnya kita mengatakan, "kepada mu kami menyembah." Mengapa kita memohon pertologan setelah kita beribadah? Bukankah sebaiknya kita memohon pertolongan dulu sebelum melakukan ibadah? Jawabanya, kata Al-Fakhr Al-Razi,
Seolah-olah orang yang salat itu berkata, "aku memulai ibadah ini, dan aku memohon pertolongan kepada Allah untuk menyempurnakan ibadahku. Sehingga kesempurnaan ibadah itu tidak terganggu karena kematian, sakit atau karena hati yang lalai." Kami beribadah, dan kami memohon kepada mu agar menyempurnakan ibadah kami, sehingga kesempurnaan ibadah kami tidak terganggu. Karena itu, setelah iyyaka nasta´in.
Seakan-akan ketika manusia mengatakan iyyaka na´budu , dalam hatinya ia berkata, "tuhanku, aku datang kepada mu dengan membawa hati yang tidak ikut bersamaku; aku datang kepadamu, tapi hatiku lari darimu. Maka aku memohon kepada mu agar engkau menghadirkan hatiku dalam ibadah ini. Bukankah Rasulullah saw. Bersabda bahwa hati seorang mukmin terletak di antara jari jemari tuhan (maksudnya, bahwa hati manusia itu mudah sekali berubah dan hanya tuhanlah yang bias meneguhkan hati). Karena itu kita berkata, ´aku beribadah kepada mu, ya Allah, dan aku memohon tolong agar engkau menghadirkan hati kami dalam ibadah kami. Bukakah hati kami terletak di antara jari jemari-mu.´
Aku tidak memohonkan pertolongan kepada selainmu. Tidak kepada jibril, tidak kepada mikail. Aku hanya meminta petolongan kepada mu saja. Dalam hal ini aku mengikuti mazhab Ibrahim as. Ketika beliau akan dilemparkan ke dalam api, namruz mengikat kedua kaki dan tanganya, lalu melemparkanya ke dalam api. Jibril datang dan berkata, "apakah engkau memerlukan bantuanku?" Ibrahim menjawab, "aku tidak memerlukan bantuanmu. Cukuplah bagiku untuk tidak menyampaikan permohonan kepada tuhan. Karena aku tahu bahwa tuham mengetahui keadaanku." Tapi sebagai pengikut nabi Ibrahim, kita menambah kalimat lagi pada ucapan beliau itu. Kalau berliau diikat kedua kaki dan tanganya oleh namruz, maka dalam salat kita, kita emngikat kaki kita sehingga kita tidak berjalan; mengikat mata kita sehingga kita tidak melihat ; mengikat telinga kita sehingga kita tidak mendengar; dan mengikat lidah kita sehingga kita tidak berbicara. Semuanya kita hadapkan kepada Allah swt. Dengan suka rela. Ibrahim diikat dengan terpaksa oleh namruz, kita mengikat diri kita dalam salat secara suka rla dan hanya tunduk kepada Allah. Kalau Ibrahim di hadapkan kea pi namruz, kita dihadapkan ke api jahanam. Kalau Ibrahim tidak ridha menerima bantuan selain dari tuhan, maka kita pun tidak ridha meminta bantuan kepada siapa pun kecuali kepada Allah swt. Saja. Sebagaimana Allah berkata kepada api yang membakar Ibrahim, "ya naru kuni bardan wa salaman ala Ibrahim" (QS. Al-Anbiya´,21;69), kita juga berharap agar Allah berkata kepada api jahanam sehingga neraka itu berkata, "lewatlah hai orang beriman. Cahayamu telah mematikan nyala apiku."
Iyyaka nasta´in artinya "aku tidak meminta tolong selain kepada mu, karena selain mu tidak akan sanggup memberikan pertolongan kepadaku. Kalaupun ada orang yang menolongku, pertolonganya itu juga karena pertolonganmu." Kalau ada orang yang membela kita, itu sebetulnya karena pertolongan Allah jua.
Ketika kita mengucapkan iyyaka na´budu, boleh jadi dalam hati kita telah terbit satu perasaan bahwa kita sudah mampu beribadah kepada Allah swt. Orang menyebutnya ´ujub, merasa bangga karena kita sudah beribadah kepada Allah swt. Kita lupa bahwa ibadah kita terjadi karena bantuan Allah. Oelh sebab itu, setalh mengatakan iyyaka na´budu, buru-burulah mengatakan iyyaka nasta´in, kepada mullah kami meminta pertolongan, dengan begitu, kita menghilangkan ujub dari dalam hati kita.