Kali ini, saya ingin menulis juga tentang Damaskus. Bagi sebagian kawan saya, Damaskus adalah tanah air mereka yang kedua. Pada buku kecil Rindu Rasul saya mengutip ucapan seseorang – konon katanya bersumber dari hadits, tapi saya belum menemukan rujukannya. Bunyinya begini: setiap mukmin punya dua tanah air: tanah lahirnya dan tanah suci. Bagi orang-orang Damaskus, mereka mengubah kalimat itu dengan ucapan: setiap orang punya dua tanah air: tanah lahirnya dan damaskus. Cikal bakal peradaban manusia yang tercatat memang mulai dari damaskus. Di museum damaskus ada prasasti Bangsa Sumeria, prasasti tertua yang tercatat dalam sejarah.
Di Damaskus itu saya berjumpa dan berkenalan dengan dua tokoh. Yang satu sengaja, yang lain ketemu begitu saja. Yang sengaja saya cari adalah Ayatullah Sayyid Muhammad Husein Fadhullah. Beliau berpulang ke rahmatullah belum lama ini ketika Sya’ban baru berumur beberapa hari. Selain doa khusus yang saya panjatkan untuk almarhum, tulisan ini juga ingin saya maksudkan untuk mengenang beliau, dan menyuarakan pesan-pesannya yang pernah saya dengar.
Zaynabiyyah
Biasanya, seminggu sekali Sayyid-begitu saya biasa menyapa beliau- mengendarai Mercy hitam tuanya dari Beirut menuju Damaskus. Jangan salah kira, Mercy yang beliau tumpangi bukan sekadar Mercy biasa. Meski lazim ditemukan di Negara-negara Arab, Mercy jenis yang beliau kendarai adalah Mercy istimewa. Menurut kabar yang beredar, mobil beliau itu bulletproof. Saya tidak tahu kebenarannya. Tapi saya tahu bila mobil itu disentuh cukup lama, sirine akan berdengin seketika. Dua orang bodyguard beliau akan segera lari ke muka. Dua orang yang sama yang selalu mengapit Sayyid bila sedang memberikan khotbah. Dua orang yang tak pernah terlihat tersenyum, dan matanya waspada mengawasi sekeliling.
Betapa tidak. Sayyid adalah tokoh spiritual masyarakat Syi’ah Lebanon yang berhasil mengguncangkan dunia dengan kelompok kecil Hizbullah mereka. Satu-satunya kelompok Arab yang mampu mengusir Israel keluar dari tanah jajahan mereka. Sayyid dekat dengan berbagai kalangan. Beliau dicintai banyak orang dan dirindukan. Tentu musuh-musuh Islam yang tak sejalan dengan beliau berusaha untuk mencari celah kapan suara lantang terhadap penindasan itu dapat dibungkam. Karean itulah, sepasang mata yang waspada dari dua bodyguard adalah taruhan yang kecil dari simbol yang disimpan banyak orang pada pundak sayyid.
Cukuplah untuk menunjukkan betapa Sayyid dihormati berbagai kalangan dengan cerita yang dikirim kawan saya, yang dikutipnya dari berita di internet. Saudara bisa mengecek kebenarannya dengan browsing internet saat ini juga. Pada tanggal 7 juli 2010, kantor berita CNN memecat editor seniornya yang telah bekerja selama 20 tahun hanya karena posting di Twitter yang ditulisnya. Editor senior itu namanya Octavia Nasr. Dia seorang Nasrani. Selama ini dia menjadi editor senior CNN untuk urusan Timur Tengah. Dan inilah posting twitternya: ”sad to hear the passing of Sayyed Mohammed Hussein Fadlallah. One of the most prominent Lebanese Shiite Spiritual Leaders who was involved in the founding of the Hezbollah militia. He was one of Hezbollah’s giants I respect a lot.”
Karena posting itu, CNN memberhentikan Octavia Nasr.
Sayyid juga adalah ulama keluaran Najaf Asyraf yang istimewa. Menurut orang Najaf, siapa pun yang berangkat, belajar, lalu tinggal di Najaf kemudian pulang kembali ke kampung halaman, mereka pasti kehilangan Najaf. Tetapi ketika sayyid beranjak dari Najaf, Najaf yang kehilangan dia.
Saya ingin menulis pengalaman singkat saya bersama beliau. Saya beruntung bisa hadir seminggu sekali di majlisnya. Majlis itu selalu penuh sesak. Hadirin datang dari berbagai penjuru. Bila Sayyid saja meluangkan waktu, melelahkan diri beliau, berangkat dari Beirut menuju Damaskus, maka apalah artinya berjalan dari berbagai penjuru Damaskus untuk menjumpai beliau. Saya, kebetulan tinggal di dekat madrasah beliau, di daerah khusus pusara Sayyidah Zainab sa.
Banyak yang saya pelajari dari Sayyid. Kesederhanaan beliau, lemah lembutnya, semangat persatuannya, dan kehangatannya. Tentu ilmu Sayyid yang begitu luas adalah topik tersendiri yang tak habis dibahas. Setiap usai majlis, kami berbaris bersalaman. Dan Sayyid tidak pernah menarik tangan beliau untuk dikecup orang-orang yang dibalut kerinduan. Janggutnya yang lebat nyaman untuk jadi tempat sandaran. Sekiranya tiada dua bodyguard di samping kiri dan kanan beliau, ingin saya peluk beliau lebih lama. Biasanya ketika melihat wajah-wajah Indonesia datang menghampiri, senyum beliau tersungging. Lalu menyapa kami dengan hangat: “Ahlan Andunisi…Ahlan Andunisi…” selamat datang orang Indonesia, selamat datang. Saya masih merindukan saat-saat seperti itu. Pada saat menuliskan “obituary” ini pun saya tak kuasa menahan air mata saya. Sungguh saya merindukan orang seperti beliau.
Ada tradisi yang menarik di majlis beliau. Orang biasanya menyampaikan pertanyaan lewat tulisan, meski tak kadang ada juga yang bertanya secara lisan. Ada seseorang yang duduk di samping Sayyid selama beliau berkhotbah. Saya pernah mendekati orang itu dan bertanya apa yang sebetulnya dia lakukan. Dia menjawab: “Saya membantu Sayyid. Saya memilah pertanyaan demi pertanyaan yang masuk untuk beliau jawab. Saya sisihkan sebagian. Saya ajukan pada Sayyid apa yang seharusnya ditanyakan. Ini pun pesan Sayyid.” Saya bertanya lagi kira-kira pertanyaan apa yang akan dieliminasi. Dia menjawab:”Bila ada pertanyaan yang menjurus untuk memecah belah kaum Mukminin, atau cenderung untuk menyebarkan kebencian, atau menghujat kehormatan seseorang, maka pertanyaan seperti itu tidak akan saya berikan untuk dijawab oleh Sayyid.”
Dan di antara pertanyaan-pertanyaan yang pada akhirnya sampai di hadapan Sayyid adalah pertanyaan-pertanyaan yang unik berikut ini. Saya akan tuliskan berikut dengan jawaban Sayyid. Jawaban yang tidak pernah pasti menjawab “Ya” dan “Tidak”,tapi jawaban yang membuat hadirin harus menggali ilmu lebih jauh lagi.
“Sayyid, bagaimana hukumnya membunyikan klakson di bulan Ramadhan untuk membangunkan orang sahur?”
Dalam Islam, haram hukumnya mengganggu orang lain.
“Sayyid, di manakah kuburan Sayyidah Zainab? Di Damaskus atau di Kairo?”
Pusara beliau yang sejati ada di hati kalian.
“Sayyid, apakah Luqman itu Nabi atau bukan?”
Apa manfaatnya bagimu untuk tahu Luqman itu Nabi atau bukan. Kamu telah bertanya sesuatu, yang mengetahuinya tidak mendatangkan manfaat bagimu, dan tidak mengetahuinya telah mendatangkan madarat bagimu.
“Sayyid, bagaimana pendapat Sayyid terhadap orang-orang yang mengkritik dan membencimu?“
Ana uhibbuhum jami’an. Aku mencitai mereka seluruhnya. Alangkah baiknya bila ada perilakuku yang tidak berkenan, mereka sudi mengingatkanku. Datang padaku, menyampaikan di mana salahku, dan berbincang bersama denganku.
“Sayyid, bagaiman pendapat Sayyid tentang para Saadat (keturunan Rasulullah Saw ) dan ‘Awaam (bukan keturunan Rasulullah Saw)?”
Maa’indana as-saadat wal’awwam, na’am min haitsu mas’uliyyah, mas’uliyyatuna aktsar. Tidak ada diantara kita ini Saadat atau ‘Awwam. Benar , dari sisi tanggung jawab, tanggung jawab kami (para Saadat) ini jauh lebih besar.
“Sayid, bagaimana saya harus menjawab bila ada orang yang bertanya tentang mazhab saya?”
Jawablah, “Ana muslim.”
Dan masih banyak lagi. Tentang pertanyaan yang terkhir, saya bahkan punya pengalaman unik. Satu saat, datang di kelas saya di pusat bahasa Universitas Damaskus itu seorang kawan dari Amerika. Mansur namanya. Dia bertanya pada saya:Antum Sunni aw Syi’i? apakah kamu ini Sunni atau Syi’ah? Saya teringat ajaran Sayyid. Saya menjawab:”Ana muslim”. Dan dia tergelak tertawa terbahak-bahak seraya berkata: kamu pasti Syi’ah. Kamu pasti Syi’ah.
Saya bertanya:”Lho, dari mana Antum bisa yakin kalau saya Syi’ah. Saya ini Muslim.” Dia kemudian menjawab: Tidak, kamu pasti orang Syi’ah. Karena, hanya orang Syi’ah lah yang jika ditanya apa mazhabnya, dia akan menjawab ”Ana Muslim.” Yang lainnya, pasti dengan segera menyebut mazhabnya: Sunni Syafi’I, Maliki,Hanafi dan sebagainya.
Saya tidak punya cara membuktikan pada dia sebaliknya. Saya kehilangan kata-kata. “Ya sudah,” ujar saya. “Terserah pendapat Antum. Kalau Antum sendiri bagaimana? Sunni atau Syi’ah” Lalu dia tersenyum dan menjawab:Ana muslim juga. Sungguh indahnya perjumpaan saya dengan sahabat saya itu, karena ajaran yang saya terima dari Sayyid.
Selamat jalan Sayyid. Lebanon yang benih perjuangnya kausemai telah menginspirasi banyak gerakan kolompok tertindas di bumi ini. Selamat jalan wahai guru. Semoga Tuhan berkenan mempertemukan kita kembali. Bahagia rasanya bila kelak, satu saat, bi idznillah, saya dapat mendengar suara itu kembali: “Ahlan Andunisi… Ahlan Andunisi.” Dan saya kecup tanganmu. Saya basahi janggutmu yang lebat dengan tangisanku.
Maafkan kami yang hanya dapat mengantarmu dengan doa. Ketika kau sakit mata, ketika kau terbaring tak berdaya. Bahkan ketika seorang saudaramu datang ketempat kami dan berkata: Kunjungi Sayyid. Mungkin kita tidak akan punya banyak waktu lagi. Hanya doa yang terucap ketika mengantar engkau pergi. Maafkan juga kami bisa salah mengerti ajaranmu, tak cukup arif menangkap pesanmu. Berkutat dalam dilema karena ketidakpahaman kami. To be great is to be misunderstood mungkin tepat bagi sosok sepertimu. Selamat jalan Sayyid.
Setiap kali mendengar berita seorang ulama besar pergi, saya meluangkan waktu di kensendirian, mengatar almarhum dengan shalat yang diajarkan. Saya teringat ketika satu saat, saya berdesak-desak berusaha naik di atas truk kontainer yang membawa jasad almarhum Ayatullah Sayyid Gulpaygani, lebih dari belasan tahun yang lalu. Bodyguard yang menjaga bahkan terpaksa mengeluarkan pistolnya untuk mengusir kami yang berduka karena kepergian tokoh besar itu. Pada truk kontainer yang mengantar jenazah almarhum, terpampang tulisan besar-besar:”Setiap kali seorang ulama meninggal dunia, ada lubang besar dalam dinding bangunan islam, yang takkan tergantikan hingga ratusan tahun lagi.”
Bagi orang seperti mereka, menangislah orang-orang yang hendak menangis. Bagi para ulama seperti itu, doa tulus kita: Al-Fatihah.
Ruknuddin
Tokoh lain yang “tidak sengaja” saya temukan adalah Syaikh al-Akbar, Muhyiddin ibn ‘Arabi. Saya sudah pernah membaca dan mendengar bahwa beliau dimakamkan di Damaskus. Tapi saya belum sempat secara khusus mencarinya. Siang itu, sepulang dari kampus. Saya berjalan-jalan ke arah Ruknuddin, sebuah daerah di utara Damaskus, di hamparan lereng-lereng pegunungan yang tandus. Saya menyusuri kota-kota tua. Saya berjalan seorang diri. Masuk satu pasar, keluar dari pintu yang lainnya.
Tibalah waktu shalat, terdengar kumandang adzan. Di sebelah kiri depan saya tampak menara sebuah mesjid. Agak istimewa meski setiap menara mesjid memang istimewa. Saya bergegas ke mesjid itu. Terletak di tengah-tengah pasar yang bersih. Pintu besi hijaunya menyambut saya. Saya langkahkan kaki kanan masuk ke dalamnya. Di samping kanan saya menunggu tempat wudhu terbuka. Ada nuansa lain di mesjid itu. Suasananya berbeda. Indah, nyaman, tak dapat dilukiskan kata-kata. Setelah berwudhu saya masuk keruangan masjid. Di samping kiri sebetulnya ada pintu kecil, tapi saya tak begitu memperhatikannya, karena jamaah sudah berbaris untuk menegakkan shalat. Saya masuk ke dalam masjid. Bangunannya dari bilik-bilik kayu. Dalam hati saya berujar, bila ada tempat yang paling cocok untuk para sufi di Damaskus, pastilah tempat ini jadinya.
Usai shalat, saya masih tak henti mengagumi kesederhanaan masjid itu. Sambil melangkah ke luar, saya berpaling ke ruangan kecil yang kini ada di sebelah kanan saya . saya tehenyak! Dia tas pintu itu tertulis kaligrafi: di sinilah tempat pembaringan Syaikh al-Akbar. Masya Allah. Saya bergegas masuk. Di dalamnya ada beberapa nisan teronggok agak tinggi. Beberapa orang juga tampak berziarah. Dan di tengah ruangan itu, dibalut kain hijau berkaligrafi, diatas nisan yang disimpankan serban hijau. Di sanalah pembaringan Syaikh al-Akbar ibn ‘Arabi. Tuhan telah mengantarkan saya sampai di ziarahnya.
Menyambut bulan Ramadhan ini, saya ingin bercerita tentang sepenggal dari karya beliau yang terselamatkan: Hilyat al-Abdal. Hiasan para Badal. Badal adalah istilah tasawuf untuk para wali yang sampai pada tingkatan istimewa. Badal artinya pengganti. Konon, bila ada satu orang Badal meninggal dunia, Allah Ta’ala akan mengangkat seorang yang lain menggantikannya.
Buku Hilyat al-Abdal ini istimewa. Dia ditulis Ibn ‘Arabi dalam waktu yang sangat singkat, ketika seorang kawannya meminta agar dia menuliskan baginya sesuatu. Tapi risalah yang pendek itu juga jadi tulisan Ibn ‘Arabi yang paling banyak dibahas dan dikomentari. Ada ratusan karya beliau. Yang “terselamatkan” sekitar delapan puluh-an. Hilyat al-Abdal satu diantaranya.
Menurut Ibn ‘Arabi ada empat cara untuk sampai pada tingkatan Badal itu. Yang pertama adalah Shumtun (diam), yang kedua ‘uzlah(menyepi), ketiga ja’un(rasa lapar), dan keempat sahar(terbangun dan terjaga). Mingkin perlu tempat tersendiri untuk menceritakan masing-masing dari keempat “rukun“ itu. Tetapi sekadar menghentakkan kesadaran kita, semua sifat pencapai tingkatan badal itu dapat kita temukan di bulan suci Ramadhan. Inilah bulan ketika diam kita terpelihara, lalu kita berusaha menyepi dari gangguan terhadap sesama, atau ketika lapar mendidik kita, dan bangun di waktu dini hari untuk membuat ruh kita tetap terjaga.
Selamat menyambut bulan Ramadhan, bulan madrasah ruhaniah, bulan untuk mendidik kader-kader “badal” dari tingkatan para wali Allah Swt.
Mohon maaf lahir dan batin. Abu Muhammad dan Sajjadali.