Tentang Nabi Ibrahim dan Wafatnya

Ust. Miftah F. Rakhmat

 

Alkisah, pernah suatu saat para sahabat memanggil Rasulullah SAW dengan gelaran, “sayyidul anaam” penghulu manusia. Meskipun benar gelar itu untuk beliau, tapi nabi SAW mengigatkan para sahabat dengan mengatakan bahwa gelar itu milik Ibrahim. Selain itu, gelaran yang diabadikan Al-Quran pada Ibrahim adalah panggilan penuh kedekatan “khlalilullah”. Khalil bisa berarti sahabat. Khalil juga bisa bermakna kekasih. Lihatlah bagaimana terjemahan bahasa Indonesia memilih padanan yang paling tepat untuk itu: “… dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganya.” QS. Al-Nisa :125.

 

            Ibrahim juga dipanggil “ia yang berkhidmat pada tamunya”. Ia tidak pernah menikmati makan siang atau malamnya kecuali ditemani sedikitnya seorang tamu yang diajaknya makan bersama. Terkadang ia memerlukan diri berjalan dua atau tiga kilometer jauhnya untuk menemukan seorang yang ia bawa ke rumahnya. Inilah kedermawanan dan keramahan Ibrahim. Seorang mufasir merujuk QS. Al-Nuur:35 “syajaratin mubarakatin zayytunattin.” Pohon zaitun yang diberkati” pada kebiasaan yang baik dari Ibrahim ini.

 

            Tuhan memang menyayangi orang yang berbagi rezeki dengan sesamanya. Rasulullah Muhammad pernah berkata kepada para sahabatnya: “sungguh, anugerah tuhan begitu cepat datang bagi orang yang senang berbagi makanan, jauh lebih cepat dari sabetan pedang di punuk unta.” Punuk unta berisi lemak saja. Punuk unta hanya berisi cadangan airnya. Bila pedang menebasnya, dengan cepat ia terbelah dua. Dan rezeki tuhan bagi para penebar rezeki, jauh lebih cepat dari kebatan itu.

 

            Ibrahim adalah orang yang sangat senang berbagi. Ia tak ingin merasakan nikmat tuhan itu seorang diri. Karena itu, ketika tuhan menjadikanya imam bagi manusia (QS. Al-Baqarah:124) Ibrahim berkata, “… dan dari keturunan ku…” Ibrahim bermohon agar keturunannya kelak menjadi imam bagi manusia. Dan ayat Al-Quran itu tidak mengisahkan batasan akhir dari keturunan Ibrahim yang menjadi imam itu. Tuhan hanya menjawab dengan berkata:” …janji ku ini tidak mengenal orang yang zalim.” Tuhan mengiyakan, tetapi hanya keturunan Ibrahim yang sama sekali tidak pernah berbuat kezaliman. Dan dosa adalah bentuk kezaliman pada diri sendiri. Mungkinkah imam dari keturunan Ibrahim adalah dia yang tidak berdosa sama sekali ?

 

            Bolehkah kini kita berasumsi, bahwa imam dari keturunan Ibrahim itu akan terus ada hingga akhir zaman? Karena Al-Quran memang tidak mengisahkan pembatasan, meski nabi ditutup dengan risalah Rasulullah SAW, nabi akhir zaman. Apakah imam amsih ada sepeninggal Rasulullah ? bukankah nabi SAW sendrii telah menubuwatkan keberlangsungan kepemimpinan hingga akhir zaman?(1) bila memang demikian, siapakah dia? Siapakah nahkoda yang akan melayarkan bahtera keselamatan itu di dunia?(2)

 

(1)   Hadis, “tidak henti-hentinya islam tegak di muka bumi sampai lewat pada mereka dua belas pemimpin (iama, amri, khalifah). Semuanya dari quraisy.” Lihat shahih bukhari, kitab al-Ahkam 4:165’ shahih muslim, kitab al-Imaara, 3:1453, hadis no.10 rujuk juga Al-dzahabi, tadzkirat al-huffazh, 4:298; ibn hajar al-asqany, al-Durar al-Kaminah 1:167.

 

(2)   Kaum muslimin mempercayai konsep dan kehadiran imam mahdi sebagai imam akhir zaman. Tetapi kesimpangsiuran tentang siapa sosok imam mahdi telah membawa pada bebagai kekeliruan dan kesalahpahaman. Untuk lebih mengetahui tentang imam mahdi rujuk harun yahya atau fatwa rabithah al-Alam al-Islam, organisasi ualma islam sedunia di Saudi, tertanggal 11 oktober 1976/23 syawal 1396 H. al-Bayan fi akhbar sahib al-zaman, kanji al-syafi’I, Beirut, mukaddimah halaman 76-79 dan pada bagian lampiran.

 

Jawaban atas doa Ibrahim itu dipenuhi Allah ta’ala dengan menjadikan ishaq dan ismail sebagai nabi. Bahkan dari keturunan ishaq, lahir silsilah para nabi ibrahimmiyyah. Masjid al-aqsa menjadi pusat perputaran seluruh nabi itu: Ya’qub, Yusuf, Zaraiyya, Yahya, hingga Isa. Salam Allah ta’ala bagi mereka seluruhnya. Masijid al-Aqsha kiblat kaum muslimin pada silsilah para nabi ibrahimiyyah ini. Dan seilsilah itu berhenti pada Isa yang tak berputra. Pada sayyidah maryam yang “dikeluarkan” dari masjid Al-Aqsha demi untuk melahirkan Isa.

 

      Konon, di papua beredar cerita. Mereka menisbatkan pergantian kiblat di zaman Rasulullah SAW pada pewarisan silsialah kenabian ini. Bukankah ada saksi masjid Qiblatain di madinah? Masjid dengan dua arah kiblat: masjid Al-Aqsha di palestina, dan masjid Al-Haram di kota makkah. Menurut cerita orang papua (dan sungguh saya takjub bagaimana ceritanya kisah seperti ini sampai di tanah papua), mahkota kenabian itu diwariskan dari raja Ibrahim (demikian mereka mengelarinya) pada para pangeran dari keturunanya. Terutama dau panggeran utama: ismail dan ishaq. Meski ismail anak pertama, tapi mahkota itu diserahkan pada ishaq. Turun temurun hingga sampai pada Isa. Karena Isa tak berputra, maka mahkota itu dikembalikan pada silsilah awalnya, yaitu pangeran ismail. Melalui Ismail lah mahkota itu kemudian sampai pada Muhammad Rasulullah SAW. Karena itulah, kiblat berganti arah. Garis emas kepemimpinan telah diwariskan dari silsilah ibrahimiyyah pada silsilah muhmmadiyyah (berhenti pada sayyidah maryam dan dilanjutkan oleh sayyidah Fatimah), pergantian arah kiblat adalah penyerahan simbolis mahkota itu. WAllahu a’lam. Meski perlu ditelusuri lebih jauh, cukuplah bagi kita untuk menjadikanya renungan, seraya selalu mengatakan : dan hanya tuhanah yang mengetahi kebenaran. Tentu selalu ada hikmah di balik setiap kisah.

 

 

 

      Melanjutkan pujian Al-Quran pada Ibrahim adalah ayat-ayat berikut ini:.. dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji tuhanya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikanya (QS. Al-Baqarah:124); …dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji(QS. Al-Najm:37);…sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadika teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan(QS. Al-Nahl:120).

 

 

      Ibrahim adalah orang pertama yang disebut hanif. hanif artinya lurus, tegak dan istiqamah di jalan Allah. Ia yang berdoa memohon diajarkan cara terbaik meyembah tuhan (QS. Al-Baqarah;128) dan tuhan memenuhinya. Ia juga yang pertama mengajarkan tradisi berkurban. Ia pula yang diperintahkan untuk  membangun rumah tuhan. Ia juga yang pertama dijerumskan k dalam api karena berdakwah mengajak orang kepada Allah . tempat berdirinya ketika membangun ka’bah dijadikan tempat shalat bagi orang beriman setelahnya (QS. Al-Baqarah;125). Dan terakhir, Ibrahim juga adalah orang pertama yang karenanya hidup kembali yang telah mati, sebagaimana pintanya pada tuhan (QS. Al-Baqarah 260).

 

 

      Ibrahim adalah hamba Allah yang diuji dalam berbagai keadaan, dan ia telah membuktikan kecintaannya. Allah ta’ala menerima seluruh persembahan itu seraya memuji (QS. Hud:75): sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun (halim), penghiba(awwah), dan suka kembali kepada Allah (munib). Menurut tarfsirnya, halim adalah sifat kemuliaan karena kemampuan mengendalikan dririnya di saat amarah. Awwah adalah kelembutan hati, yang mengaduh manakala ada perbuatan dosa disebut, dan munib adalah derajat bagi dia yang dalam hatinya hanya ada kecenderungan pada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

 

      Karena penjuagan kecintaan Ibrahim itulah, tuhana mewartakan padanya : hai Ibrahim karena kau berikan jamuan bagi tamumu, anakmu sebagai pengorbananmu, dirimu dalam api sebagai tanda kepasrahanmu, dan haitmu yang dibalut kepastian tak terbantahkan sebagai keyakinanmu… karena itulah kami jadikan engkau sebagai khalil, kesayangan dan kekasih kami.

 

      Ibrahim adalah bapak kedua manusia setelah adam. Pada Ibrahim selayaknya kita mengambil hikmah dan pelajaran.

 

       Syahdan, setelah mengabdi sekian lama, akhirnya tiba juga saatnya Ibrahim kembali kehadirat yang maha kuasa. Ada beberapa versi cerita terakhir kehidupan Ibrahim. Dua diantara dikisahkan dalam the prophetic wisdom ini. Satu disini, dan satu lagi pada kisah ayyub.

 

     Ketika ajal Ibrahim sudah dekat, Allah ta’ala mengutus malaikat maut menemuinya dalam bentuk seorang yang sangat tua. Menurut riwayat dari al-suddi, Ibrahim seperti biasa sedang menjamu dan member makan banyak tamunya, ketiak seoran tua renta sedang terseok menyebrangi jalan. Ibrahim memerintahkan keledainya dibawakan untuk menuntun orang tua itu. Ketiak pada akhirnya tatap Ibrahim dan orang tua itu beradu, Ibrahim menawarkan padanya makananya. Setiapkali orang tua itu menyauk makanan dan hendak memasukanya ke mulutnya, tanganya bergetar hingga ia salah arah. Alih-alih ke mulut, tanganya mengarah ke matanya. Alih-alih ke mulut, makanan itu berhamburan ke pipinya. Melihat kondisi yang menyedihkan itu, Ibrahim bertanya kepadanya gerangan apa yang telah menjadikanya seperti itu. Orang itu menjawab: “ini semua karena usia tua.” Ibrahim bertanya kepadanya berapa umurnya. Bapak tu itu pun menjelaskanya. Dan Ibrahim terkejut, karena jarak antara usianya dan usia orang tua itu hanya terpaut dua tahun saja. Ibrahim bertanya kembali: “akankah aku sepertimu pada saat umurku mencapai usiamu saat ini?” orang tua itu mengiyakan. Ibrahim pun berdoa agar kematian menjemputnya sebelum sampai pada keaadaan seperti itu. Kemudian orang tua itu berdiri, dengan tegapnya, seperti tidak pernah terlihat tua sama sekali. Lalu ia mencabut ruh Ibrahim. Dengan itu, Ibrahim kembali kepada tuhanya. Orang itu tak lain adalah malaikat maut yang berwujud manusia.

 

      Sebagian mengatakan usia Ibrahim sampai pada angka 200 tahun. Ada juga yang menyebutnya hanya sampai pada 190-an. Ibrahim dikebumikan disamping makan sarah istrinya. Di sebuah daerah perkebunan di jabroun palestina. Orang barat mengenal kota iut dengan sebutan hebroun. Islam memanggil kota itu sebagaimana panggilan sayang Allah pada Ibrahim: al-khalil. Satu surat diturunkan dalam Al-Quran dengan menyandang namanya. Dan 69 ayat dalam Al-Quran mengabdikan namanya.

-          Dikutip dari buku “the prophetic wisdom”, Miftah F, Rakhmat, Mizan 2011

Content Copyright© 2010 Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat, Msc
Design by Javangger programming